Ketua DPD Partai Hanura Sumbar H. Febby Datuak Bangso


essapers.com, Padang - Ketua DPD Partai Hanura Sumbar H. Febby Datuak Bangso mengimbau dan mengingatkan kader, Caleg dan simpatisan partai serta masyarakat agar tidak bermain-main dengan agama, apalagi sampai mengolok-olok agama.

“Orang banyak pasti akan tersinggung atau tidak nyaman jika agama dipermainkan, apalagi sampai jadi bahan candaan dan diolok-olok,” kata Datuak Febby, sapaan akrab politisi muda Sumbar ini, ketika ditemui di Sekretariat Partai Hanura Sumbar yang juga Sekretariat Tim Pemenangan Daerah (TPD) Ganjar – Mahfud.


Ia mengingatkan, dalam situasi apa pun, hendaknya selalu dewasa dalam berkata dan bertindak. Dalam konteks politik dan demokrasi, mereka yang menekuni dunia tersebut adalah mereka yang seharusnya sudah dewasa dalam berkata dan bertindak tersebut.


Sejalan pula dengan usia ke-17 tahun di Desember 2023, seharusnya kader, Caleg dan simpatisan partai Hanura harus lebih dewasa lagi. Datuak Febby mengingatkan, tidak boleh kader, Caleg dan simpatisan partai Hanura melakukan candaan politik, banyolan atau obrolan yang menyinggung terhadap kenyamanan orang, terutama tentang agama sebab agama bukan untuk candaan atau dijadikan banyolan.


“Usia 17 tahun ini seharusnya sudah menjadi alarm bagi Partai Hanura,” kata Datuak Febby.


Datuak Febby menjabarkan, jika agama dijadikan banyolan, maka bisa berakibat buruk terhadap yang bersangkutan dan lingkungan. Setiap orang pasti akan tersinggung dan tidak akan nyaman jika agamanya diolok-olok orang lain, malahan Ia juga merasakan, mereka yang berbeda agama juga akan merasakan hal tersebut jika ada satu agama diolok-olok orang.


Menurutnya, sesungguhnya sangat banyak sudut pandang terkait atau tematik dalam kampanye. Jangan sampai mengolok-olok agama. Jangan rusak semua yang sudah dibangun hanya dengan statemen atau materi berolok-olok tersebut. 


“Jangan hanya karena berolok-olok tersebut merusak tatanan baik dalam kehidupan dan berbangsa selama ini,” katanya.


Datuak Febby kemudian membeberkan sejumlah fakta, banyak peristiwa besar yang kemudian bermuara kepada kerusuhan dan sejenisnya karena agama. Berawal dari memperolok-olok agama, kemudian menimbulkan memantik rasa bagi mereka yang tersinggung lantaran agamanya dipermainkan. *