Oleh Miko Kamal
Catatan Perjalanan Haji 2015
Ba’da Subuh, Rabu 23/9/15 atau 9 Djulhijjah 1536 H, 173 jamaah Maghfirah sudah bersiap-bersiap menuju Arafah melaksanakan wukuf. Wukuf adalah salah satu rukun haji. Karena Rukun, jamaah haji yang tidak menunaikan wukuf, maka hajinya tidak sah. Rasulullah SAW bersabda bawha ‘Haji adalah (wukuf) di Arafah’ (HR Bukhari dan Muslim).
‘Bapak-bapak dan ibu-ibu jamaah Maghfirah yang dirahmati Allah, sekarang silahkan diaktifkan APS-nya. Kita bersiap untuk berangkat ke tempat terpenting dalam prosesi ibadah haji kita’, kata Ustad Hatta memberi aba-aba melalui pengeras suara di dalam tenda setelah semua kami selesai sarapan pagi di Mina.
Masing- masing jamaah kemudian sibuk memasang APS mereka. APS adalah alat terpenting yang dipakai semua jamaah Maghfirah untuk mendukung kelancaran ibadah selama di tanah suci. Dengan APS semua informasi penting disalurkan. Saking pentingnya, seorang Askar di area Jamarat kebingungan ‘mengusir’ 173 jamaah Maghfirah yang sedang berdoa karena mereka tidak mengenali siapa yang bertindak sebagai komandan dalam rombongan kami yang bisa menyuruh jalan atau berhenti semua anggota rombongan. Berbeda dengan kelompok jamaah lain yang mempergunakan alat pengeras suara (toa) yang bisa secara cepat diketahui siapa komandannya, dari siapa yang memegang toa.
‘Jamaah sekalian, Alhamdulillah kita semua dibangunkan oleh Allah SWT dari tidur malam pertama kita di Mina. Sekarang kita bersiap menuju Padang Arafah yang merupakan minatur dari Padang Masyar. Ibadah wukuf kita di Padang Arafah nanti tidaklah ibadah yang main-main. Waktu wukuf sangatlah singkat. Hanya lebih kurang 6 jam. Janganlah kita menyianyiakan waktu yang singkat itu. Adalah rugi besar bagi jamaah yang main-main dengan waktu yang singkat di Arafah’, suara Ustad Hatta terdengar jelas di headset ketika memberikan penekanan pentingnya Arafah di tenda sebelum kami bergerak menuju jalan raya Mina menunggu shuttle bus yang akan membawa kami ke Arafah.
‘Bisa jadi ini adalah haji kita yang terakhir. Sungguh sangat rugi bila ada diantara kita yang menganggap Arafah hanyalah sekedar Padang biasa’, Ustad Hatta kembali memberikan penekanan.
‘Regu 12 silahkan keluar terlebih dahulu, kemudian diikuti oleh regu 11, 10, 9, dan seterusnya’, di APS kedengaran suara Ustad Firman yang mengambil alih komando teknis keberangkatan kami menuju Arafah.
Diiringi gema talbiyah yang mengudara dari mulut segenap jamaah, shuttle bus reguler yang disediakan Maktab 72 mengantarkan kami ke Arafah. Perjalanan tidak memakan waktu yang terlalu lama. Kurang dari 1 jam kami menjejakkan kaki di Arafah. Sebagaimana di Mina, penempatan dan semua urusan kami di Arafah diatur oleh Maktab 72. Tenda-tenda non-permanen menunggu kami, para jamaah, di Arafah. Tenda laki-laki dan perempuan dipisahkan. Serupa dengan di Mina, tenda-tenda di Arafah juga dilengkapi dengan kasur tipis, sebuah bantal dan selimut. Juga, beberapa pendingin udara portable yang kualitas dinginnya di bawah yang tersedia di Mina.
Arafah adalah Padang tandus yang panas yang terletak sekitar 20 km di sebelah timur Makkah. Di salah satu bagian Arafah terdapat Jabal Rahmah yang diyakini sebagai tempat bertemunya Adam dan Hawa. Allah SWT tentu punya rahasia amat penting menjadikan Arafah yang gersang dan panas itu sebagai tempat yang amat penting bagi umatNya. Saking pentingnya Arafah dan hari Arafah, bagi umat Islam yang tidak sedang berwukuf disunatkan untuk berpuasa Arafah dengan ganjaran dihapuskan dosa tahun yang lalu dan setahun setelahnya (HR Muslim). Rasulullah SAW dalam sabda beliau menggambarkan penting dan mulianya wukuf: ‘…Ia (Allah) mendekat kepada orang-orang yang di Arafah. Dengan bangga Ia bertanya kepada para malaikat: apa yang diinginkan orang-orang yang sedang wukuf itu?’.
Menunggu waktu wukuf (tergelincirnya matahari), kami beristirahat di dalam tenda setelah sarapan pagi. Tepat pukul 11.00 Ustad Hatta mulai memberikan pengantar motivasi detik-detik menjelang waktu wukuf tiba.
Begitu matahari tergelincir, Ustad Hatta mempersilahkan Ustad Muin menyampaikan Khutbah Wukuf. Dalam Khutba Wukuf, Ustad kembali mengungkap urgensi penting wukuf dan Padang Arafah. Ustad Muin, antara lain, menyampaikan: ‘Sebaik-baiknya do’a adalah do’a di Arafah. Allah akan mengampuni kita semua di sini. Maka dari itu, marilah kita bertekad untuk tidak keluar dari tempat ini kecuali semua dosa kita diampuni’.
Diakhir khutbahnya, Ustad Muin memanjatkan do’a dengan suara tersedak-sedak yang kami amini bersama. Do’a yang sangat menggetarkan jiwa. Tidak sanggup sebagian besar kami menahan deraian airmata mengamini bait demi bait do’a Ustad Muin:
‘Ya Allah…berikanlah kesudahan yang baik dalam seluruh urusan kami’.
‘Ya Allah…kami mohon kepada Engkau haji yang mabrur yang tidak ada balasan kecuali surga’.
‘Ya Allah…jangan biarkan kami meninggalkan tempat ini kecuali dosa-dosa kami diampuni’.
‘Ya Allah…jangan biarkan diantara kami sakit kecuali Engkau sembuhkan’.
‘Ya Allah…jangan biarkan diantara kami sesat kecuali Engkau beri petunjuk’.
‘Ya Allah…jangan Engkau biarkan diantara kami yang lemah iman kecuali Engkau kuatkan imannya’.
‘Ya Allah…jangan biarkan diantara kami punya problem keluarga kecuali Engkau selesaikan problemnya’.
‘Ya Allah…jangan Engkau biarkan diantara kami yang menginginka putra-putri kecuali putra-putri yang soleh dan solehah pelanjut perjuangan orang tuanya’.
‘Ya Allah…jangan Engkau biarkan diantara kami menghadapi kesulitan hidup kecuali Engkau tolong menyelesaikan kesulitan itu’.
‘Ya Allah…jangan biarkan diantara kami berjihad kecuali Engkau tolong’.
Begitu Ustad Muin menyelesaikan khutbahnya, Ustad Abdulloh dengan suara merdunya yang disukai jamaah mengumandangkan azan, lalu iqamat. Ustad Muin mengimami shalat Zhuhur dua rakaat. Iqamat lagi, dan selanjutnya shalat Ashar dua rakaat.
Waktu berjalan terus. Ustad Hatta benar, 6 jam memang bukan waktu yang lama untuk menumpahkan semua harap kepada Allah SWT. Di bawah bimbingan, Ustad Hatta, Ustad Deka dan Ustad Ratmono, airmata tumpah di bawah tenda di Padang Arafah. Listrik yang byar-pet tidaklah jadi pengganggu khusuk kami memohon ampunan kepada Allah SWT di hari dan waktu yang amat spesial itu. Sambil terus saling menyemprotkan air ke udara dan ke muka serta pundak kawan, kami terus mengamini do’a-do’a yang dipanjatkan oleh para Ustad secara bergantian.
Kami saling berpelukan begitu Ustad Ratmono menyelesaikan do’anya. Para istri dan suami mencari pasangan mereka masing-masing. Jamaah yang membawa orang tua juga begitu. Saling meminta maaf.Tenda buncah dengan tangisan.
‘Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian. Sekarang saatnya Bapak-bapak dan Ibu-ibu untuk berdo’a sendiri-sendiri’, suara Ustad Hatta terdengar jelas di headset. Saya pun menjauh dari isteri yang baru saja saya salami dan rangkul. Baru saja duduk dan menengadahkan tangan, air mata saya langsung tumpah. Perasaan saya tiba-tiba campur aduk. Semua dosa-dosa masa lalu muncul tanpa dipanggil-panggil. Arafah benar-benar menjadi puncak penyesalan atas perbuatan masa lalu. Sepanjang yang saya ingat, belum pernah tangis saya sebesar yang di Arafah ini. Lembaran ihram bawahan saya lembab ditumpahi air mata. ‘Ya Allah…, ampunilah dosa-dosa hamba, baik yang kecil maupun yang besar. Sebagaimana yang sering hamba baca dalam hadits qudsi, Engkau bangga dengan kami yang lesu dan berdebu yang sedang berada di Arafah ini yang datang dari seluruh penjuru dunia. Benar ya Allah, hamba ada di Arafah hanya untuk memohon rahmat Mu, meminta perlindungan dari azab Mu. Rahmati dan lindungilah hamba ya Allah’, rintih saya dalam do’a. Saya terus berdo’a.
‘Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang dirahmati Allah SWT, diujung waktu wukuf ini kita semua keluar tenda. Ambil posisi di depan tenda, menghadap kiblat dan Ustad Muin akan kembali memimpin kita berdo’a di detik-detik terakhir waktu mulia ini’, suara Ustad Hatta di headset mengakhiri permohonan ampunan dan do’a-do’a yang sedang saya sampaikan kepada Allah.
Gema azan Maghrib menghentikan prosesi do’a kami yang sedang dipimpin oleh Ustad Muin. 173 jamaah Maghfirah bersiap-siap menuju tempat perlintasan Rasulullah Muzdalifah.
---

%20-%20Dibuat%20dengan%20PosterMyWall%20(2)%20(1).jpg)
Komentar0