TUd7GSW9TpA6TSG7GUA7BSziGi==

Koalisi Permanen untuk Prabowo: Solusi Stabilitas atau Bom Waktu Politik?

 


Jakarta, ESSAPERS.COM
– Presiden Prabowo Subianto diminta untuk berhati-hati dalam menyikapi wacana pembentukan koalisi permanen. Isu ini dinilai tidak sesederhana teori politik, mengingat praktik politik Indonesia yang sangat pragmatis dan mudah berubah.

Pengamat politik Efriza menegaskan bahwa pembentukan koalisi permanen tidak bisa hanya bertumpu pada kesamaan tujuan atau visi politik semata. Selasa, 6 Januari 2026.

“Praktik politik di Indonesia sangat pragmatis,” ujar Efriza.

Menurutnya, dalam teori politik, koalisi kerap dibangun atas dasar kesamaan kepentingan dan tujuan kekuasaan. Namun dalam praktiknya, keselarasan pandangan belum cukup kuat untuk menjamin keberlanjutan koalisi jangka panjang.

“Komitmen elite-elite partai politik tidak bisa sepenuhnya dipercaya,” tegasnya.

Efriza menambahkan, pengalaman politik sebelumnya menunjukkan bahwa menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres), konstelasi politik nasional sangat cair dan mudah berubah. Kondisi ini kerap memengaruhi komposisi dan soliditas koalisi.

“Dinamika isu, kepemimpinan, kepentingan elektoral, pemilihan figur, hingga distribusi kekuasaan sering menjadi pemicu keretakan koalisi,” jelasnya.

Meski demikian, Efriza menilai koalisi permanen bukan sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan. Namun, diperlukan syarat ketat agar koalisi tidak berujung pada drama politik dan konflik berkepanjangan.

“Koalisi permanen hanya bisa terwujud jika kesamaan pandangan itu dilembagakan secara jelas, memiliki mekanisme resolusi konflik, serta disertai komitmen elite lintas periode, bukan sekadar kesepakatan sesaat,” pungkasnya.

Komentar0


 

Type above and press Enter to search.