TUd7GSW9TpA6TSG7GUA7BSziGi==

Judi Online Semakin Ganas, Kursi Menkomdigi Terancam?

 

JAKARTAessapers.com – Kegagalan pemerintah dalam memberantas judi online (judol) kembali menuai sorotan tajam. Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid didesak mundur dari jabatannya lantaran dinilai tidak efektif menekan maraknya praktik judi online yang semakin merajalela.

Desakan tersebut disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Al-Washliyah (PP GPA), Aminullah Siagian. Ia menilai pola pemberantasan judi online di Kementerian Komdigi gagal total dan hanya bersifat reaktif, tanpa strategi jangka panjang yang jelas.

“Menkomdigi hanya sibuk memblokir domain hari ini, besok muncul seribu domain baru. Itu bukan strategi, itu reaksi panik,” ujar Aminullah dalam keterangannya, Minggu (18/1/2026).

Menurut Aminullah, judi online bukan lagi kejahatan lokal, melainkan kejahatan lintas negara, lintas rezim digital, dan lintas kepentingan ekonomi gelap. Dampaknya sangat serius karena merusak sendi-sendi sosial masyarakat, khususnya kelompok ekonomi lemah dan generasi muda.

Ia menegaskan, maraknya judi online merupakan indikator kegagalan negara dalam melindungi rakyat dari kejahatan digital terorganisir. Padahal, Presiden Prabowo Subianto telah berulang kali menyatakan sikap keras dan tanpa kompromi terhadap praktik judi online.

“Perintah Presiden Prabowo sangat jelas, terang, dan keras: berantas judi online tanpa toleransi. Namun faktanya, setelah hampir satu tahun Menkomdigi menjabat, tidak ada keberhasilan nyata,” tegas Aminullah.

Ia menilai, judi online justru semakin vulgar, sistematis, dan masif, serta semakin dalam menjerat masyarakat kecil. Kondisi ini dinilai bertolak belakang dengan semangat perang terhadap judi online yang digaungkan pemerintah pusat.

Aminullah juga menyoroti lemahnya diplomasi digital dan kerja sama internasional, terutama dengan negara-negara yang disebut sebagai pusat industri judi online, seperti Kamboja.

“Tidak ada diplomasi digital agresif, tidak ada tekanan bilateral yang kuat, dan tidak terlihat kerja sama intelijen siber lintas negara yang masif. Negara seolah kalah langkah dari bandar judol. Ini ironi besar,” katanya.

Lebih jauh, Aminullah menyampaikan bahwa setiap hari judi online terus memakan korban sosial. Mulai dari kehancuran ekonomi keluarga hingga rusaknya masa depan generasi muda akibat jeratan algoritma kejahatan digital.

“Setiap hari rakyat kecil kalah, setiap hari keluarga hancur, setiap hari generasi muda dirusak. Jika negara lemah atau absen, maka pejabat yang bertanggung jawab tidak layak terus bertahan di kursi kekuasaan,” pungkasnya.

Komentar0


 

Type above and press Enter to search.